Beranda Berita Eks Mendiknas: Jangan Hanya Andalkan ‘Mbah Gugel’

Eks Mendiknas: Jangan Hanya Andalkan ‘Mbah Gugel’

195
0
Mesin pencari seperti google seharusnya tidak diandalkan untuk mencari informasi atau pengetahuan. Mantan Menteri Pendidikan nasional (Mendiknas) Abdul Malik Fadjar menegaskan orang harus membaca buku untuk mendapatkan pengetahuan. Membaca buku berarti menumbuhkan budaya literasi. (foto: Agung Y. Achmad)

SahabatGuru – Mencari informasi apa saja kini cukup klik google. Hanya dengan meng-klik mesin pencari itu, kita memang bisa mendapatkan berbagai informasi.

Saking bergantungnya pada mesin pencari, sampai ada istilah cari saja di-google. Atau tanya saja ama ‘mbah gugel’. Mesin pencari seperti menjadi andalan. Bagi anak sekolahan, dari yang duduk di bangku SD sampai kuliah, mereka pun lebih sering mencari data atau informasi di mesin pencari.

Ini yang menjadi keprihatinan mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas, kini adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) pada Kabinet Gotong Royong (2001-2004), Abdul Malik Fadjar. Menurutnya mesin pencari seharusnya tidak menjadi tumpuan mendapatkan informasi atau pengetahuan.

Baca Juga :   "Dragon Dance", Film Karya Pelajar SMP di Kudus Nominator GKPF 2018

“Orang boleh saja bilang dapat memperoleh apa saja melalui google, tapi tak dapat lepas dari surat kabar dan buku. Itu dua model kontak yang berbeda, saat orang membaca buku dan membuka internet,” tutur Malik Fadjar dalam perbincangan dengan Agung Y. Achmad dari SahabatGuru.

Menurutnya perkembangan teknologi informasi membuat orang lebih tertarik membuka internet ketimbang buku. Jangankan membaca buku, membukanya saja mereka masih enggan. Berselancar atau mencari berbagai informasi di internet dirasakan lebih menarik. Apalagi tradisi literasi masyarakat masih belum kuat.

Malik Fadjar tegaskan bila buku tetap tak tergantikan. Bahkan kalangan terdidik seperti mahasiswa seharusnya mencari pengetahuan melalui buku.

“Tidak bisa kita hanya mengandalkan google untuk memenuhi kebutuhan akan pengetahuan. Mestinya melalui buku. Dalam hal ini, buku tak tergantikan,” katanya.

Baca Juga :   Seru, Tari Jaipong Jadi Ekstrakurikuler SMA di Beijing

Menurut mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, literasi seharusnya dibudayakan. Mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung tidak hanya dilakukan di sekolah saja tetapi juga di rumah dan masyarakat.

“Literasi harus dibudayakan baik di rumah, masyarakat dan sekolah. Harus dibangun dengan pembiasaan dan pembudayaan, baru masuk menjadi kegiatan dalam pendidikan (formal, nonformal dan informal),” ujar Malik Fadjar.

“Bila gerakan literasi ingin menjadi kegiatan dalam sistem pendidikan, maka perkuat pembiasaan dan pembudayaannya. Dulu orang susah memperoleh buku, tapi ada kemauan kuat atau suasana rasa haus untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Mereka lalu mencari,” kata Malik Fadjar memungkasi.

Facebook Comments

Komentar