Beranda Berita Pendidikan Kebencanaan Tak Perlu Masuk Mata Pelajaran

Pendidikan Kebencanaan Tak Perlu Masuk Mata Pelajaran

247
0
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kementerian Sosial akan menyiapkan program pendidikan kebencanaan di sekolah Tampak Mendikbud Muhadjir Effendy meninjau daerah terdampak bencana di Palu. (foto: istimewa)

SahabatGuru – Tidak masuk mata pelajaran bukan berarti tak diajarkan. Pendidikan kebencanaan tetap diperlukan dan diajarkan kepada anak didik. Pengajaran itu pun tetap harus disampaikan di sekolah-sekolah. Hanya pendidikan kebencanaan memang tidak perlu masuk kurikulum.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta Kadarmantan Baskara Aji tegaskan pendidikan kebencanaan tidak perlu masuk kurikulum. Meski demikian, pendidikan itu bisa masuk di mata pelajaran tertentu.

“Jadi istilahnya hidden curriculum atau kurikulum yang tersembunyi. Di mata pelajaran tertentu, kita memasukkan pendidikan tentang siaga bencana,” kata Baskara Aji di Yogyakarta, Kamis (17/1/2019).

DIY sendiri sudah memasukkan pendidikan kebencanaan di ruang kelas. Para murid diajarkan siaga bencana. Untuk memenuhi kebutuhan itu, dinas menjalin kerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY. Ini tidak terlepas dari letak geografis DIY yang berdekatan dengan Gunung Merapi dan Laut Selatan.

Baca Juga :   Genjot Kompetensi, Kemendikbud Dorong Perusahaan Buka Program Magang untuk SMK

Perlu diketahui Merapi sering erupsi, mengeluarkan lahar atau meletus yang mengakibatkan warga di lereng gunung harus mengungsi. Sekolah di Sleman yang berada di dekat Merapi lebih mengajarkan tanggap siaga bencana gunung meletus atau erupsi.

Di wilayah lain seperti Bantul dan Gunungkidul harus bersiaga menghadapi bencana tsunami dan gempa. Peristiwa gempa 2006 yang menjadikan Disdikpora merasa perlu memberikan edukasi kebencanaan kepada siswanya.

Menurut Baskara Aji bila pendidikan kebencanaan dimasukkan kurikulum, maka siswa akan makin terbebani dengan mata pelajaran. Apalagi materinya juga berbeda dengan pelajaran lain karena lebih banyak membutuhkan praktik dan simulasi.

“Kalau menjadi mata pelajaran, waktu belajar anak akan bertambah. Bila akhirnya menjadi pelajaran tersendiri, jelas tidak ada gurunya,” kata Baskara Aji.

Baca Juga :   DPRD Gunungkidul Dukung KKN UII Wujudkan Desa Wisata Budaya Petir

Dilanjutkannya, “Padahal untuk menjadi guru, syaratnya dia harus lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Dan guru tersebut harus lulusan sarjana atau Strata 1. Persoalannya tidak ada jurusan kebencanaan atau sekolah khusus bencana. Jadi tidak memungkinkan untuk memasukkannya di mata pelajaran.”

Sejak mengajarkan pendidikan kebencanaan, Baskara Aji menilai pendidikan itu lebih menekankan pada praktik dan simulasi. Melalui kegiatan simulasi itu kemudian terbentuk kelas-kelas siaga bencana di banyak sekolah. Bahkan edukasi bencana itu diajarkan kepada anak TK sampai SMA/SMK. Bahkan murid Sekolah Luar Biasa (SLB) pun mendapat pendidikan kebencanaan tersebut.

“Pendidikan itu lebih menekankan pada praktik. Dan kami melakukan banyak simulasi. Yang mengajar mereka, di antaranya praktisi, petugas BMKG dan polisi,” kata Baskara Aji memungkasi.

Baca Juga :   Guru di Tulang Bawang Tingkatkan Kompetensi