Beranda Berita Setelah Gempa 2006, Sekolah di DIY Ajarkan Tanggap Bencana

Setelah Gempa 2006, Sekolah di DIY Ajarkan Tanggap Bencana

291
0
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah raga (Disdikpora) DIY Kadarmanta Baskara Aji (tengah) mengungkapkan bila sekolah di DIY sudah mengajarkan pendidikan kebencanaan. (foto: G. Susatyo)

SahabatGuru – Pendidikan bencana bukanlah hal asing bagi siswa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berada di daerah yang berdekatan dengan alam yang memiliki potensi bencana seperti gunung berapi dan tsunami menjadikan sekolah di DIY mengajarkan soal bencana kepada para siswanya.

Bahkan edukasi bencana sudah diajarkan di sekolah sejak lama. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah raga (Disdikpora) DIY menjalin kerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY untuk pengajaran bencana untuk siswa.

Kadisdikpora Kadarmanta Baskara Aji menuturkan bila materi pengajaran itu sudah diajarkan kepada siswa sejak 2006 lalu. Saat itu, DIY dihantam bencana gempa bumi yang menewaskan 6.234 orang. Di tahun itu pula terjadi erupsi Gunung Merapi yang mengakibatkan warga di lereng gunung itu mengungsi.  

Baca Juga :   DPRD Gunungkidul Dukung KKN UII Wujudkan Desa Wisata Budaya Petir

“Sejak saat itu edukasi bencana dirasakan penting bagi masyarakat, khususnya murid sekolah. Bagaimana siswa bisa memahami dan apa yang harus dilakukan saat ada bencana alam,” kata Baskara.

Dilanjutkannya, “Kami bekerjasama dengan BPBD untuk memberikan materi kebencanaan kepada siswa mulai dari TK, SD, SMP, SMA maupun SMK sampai SLB. Jadi, kami sudah mengajarkannya jauh sebelum adanya permintaan edukasi bencana diajarkan di sekolah.”

Tidak Disamaratakan

Pendidikan bencana bagi siswa pun tidak disamaratakan di semua sekolah di DIY. Edukasi bencana untuk sekolah yang terletak di daerah Sleman akan berbeda dengan sekolah di Bantul atau Gunungkidul.

Karena terletak di dekat Merapi, sekolah di Sleman diajarkan bagaimana menghadapi bencana gunung berapi. Di Sleman, dinas juga melakukan relokasi sekolah. Sebaliknya sekolah di Bantul dan Gunungkidul diajarkan dengan edukasi bencana tsunami. Namun semua sekolah akan mendapat pengajaran yang sama bila terkait dengan bencana gempa.

Baca Juga :   Bupati Batubara Harap Kualitas Para Pendidik Ditingkatkan

“Pengajarannya sesuai karakteristik daerah masing-masing. Begitu pula usia anak sekolah. Anak TK diajarkan bagaimana menyelamatkan dirinya saat terjadi bencana. Sedangkan materi untuk anak SMA atau SMK akan berbeda karena mereka juga diajarkan bagaimana menyelamatkan orang lain. Begitu pula bagi siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB). Apa yang diajarkan tentu berbeda. Edukasi ini tidak hanya diberikan di sekolah negeri tetapi juga swasta,” ujarnya.

Dinas bersama BPBD mengedukasi kebencanaan secara berkala di sekolah. Selanjutnya dibentuk kelas-kelas siaga bencana yang setiap saat dilakukan pembinaan. Di tingkat SD sudah ada 20 sekolah yang mengembangkan kelas siaga bencana. Sedangkan di tingkat SMP ada 30 sekolah.

Baca Juga :   Wajibkan Pelajaran Antikorupsi, Ini Penjelasan Walkot Bogor Bima Arya

“Di SMA dan SMK, hampir semua sekolah sudah memiliki kelas siaga bencana. Begitu pula SLB. Yang memetakan BPBD dan kami memfasilitasi,” ujarnya lagi.

Dengan adanya kelas bencana, masyarakat, dalam hal ini siswa, memiliki kesiapan bila terjadi bencana.