Beranda Berita Zonasi Muncul, Sekolah Favorit Hilang

Zonasi Muncul, Sekolah Favorit Hilang

381
0
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menegaskan dengan diterapkannya sistem zonasi, maka sekolah favorit lama-kelamaan bisa dihapuskan. (foto: G. Susatyo)

SahabatGuru – Tidak ada lagi sekolah favorit. Di tahun-tahun mendatang, stigma sekolah favorit yang menjadi buruan calon peserta didik sudah terhapuskan karena adanya sistem zonasi.

Bila sistem tersebut diterapkan sepenuhnya, orangtua tidak lagi sibuk memasukkan anaknya ke sekolah yang dianggap favorit. Bahkan di tahun ajaran yang lalu, orangtua tak segan menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) hanya demi mendapatkan sekolah favorit untuk anaknya. Padahal secara ekonomi, orangtua tersebut tergolong bukan orang miskin.

“Stigma sekolah favorit masih kuat di masyarakat. Kami akan berusaha menghapusnya. Dengan sistem zonasi, lama-kelamaan sekolah favorit bisa dihapuskan,” kata Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan, Chatarina Muliana Girsang.

Baca Juga :   Radius Berbahaya 5 KM, Stasus Gunung Anak Krakatau Siaga

Adanya penyimpangan dalam penggunaan SKTM menjadikan surat keterangan tidak diberlakukan lagi. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengungkapkan keterangan tidak mampu bagi peserta didik baru hanya berlaku bagi mereka yang memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau dari keluarga yang mengikuti Program Keluarga Harapan (PKH).

Selain memakai SKTM, ada orangtua yang mencoba mengakali sistem zonasi dengan cara berpindah tempat. Mereka mencari tempat tinggal yang terletak tidak jauh dari sekolah yang diinginkan. Pasalnya sistem zonasi memang mengutamakan siswa yang bertempat tinggal di sekitar sekolah.

Adanya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) diharapkan bisa menjadi koridor dalam penerimaan siswa baru. Dalam Permendikbud Nomor 51 tahun 2018 tentang penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2019 disebutkan domisili berdasarkan alamat Kartu Keluarga (KK) yang diterbitkan minimal satu tahun sebelumnya. Selain itu, KK dapat diganti dengan Suket domisili dari RT/RW (kecuali untuk TA 2019/2020 dapat berlaku minimal enam bulan).

Baca Juga :   UN, 91% Sudah Berbasis Komputer dan Diikuti 8,3 Juta Siswa

“Jadi diutamakan siswa yang alamatnya sesuai dengan sekolah asalnya. Sekolah harus memprioritaskan peserta didik yang memiliki KK atau Suket domisili dalam satu wilayah kabupaten atau kota yang sama dengan sekolah asal. Jadi kita kunci di situ,” ujarnya.

Dalam Permendikbud Nomor 51 tahun 2018 juga disebutkan penerimaan siswa baru dilaksanakan melalui tiga jalur yaitu zonasi dengan kuota minimal 90 persen. Sedangkan sisanya untuk jalur prestasi dengan kuota maksimal lima persen dan jalur perpindahan orangtua yang kuotanya juga maksimal lima persen.

“Untuk kuota zonasi 90 persen termasuk peserta didik tidak mampu dan penyandang disabilitas pada sekolah yang menyelenggarakan layanan inklusif. Jadi, kami berharap tiga hingga lima tahun ke depan, stigma sekolah favorit bisaa hilang,” kata Chatarina.

Baca Juga :   Prof Arief Rahman : Guru Harus Memiliki Rencana Matang Sebelum Mengajar

Diakuinya, stigma sekolah favorit memang masih melekat di benak masyarakat. Namun secara perlahan Kemendikbud berupaya menghilangkan stigma yang masih melekat itu. Upaya yang dilakukan adalah ‘mengunci’ agar tidak terjadi penyimpangan.