Beranda Kolom Badak Jawa dan Letusan Krakatau

Badak Jawa dan Letusan Krakatau

65
0

Oleh : Nyoto Santoso (Dosen Fakultas Kehutanan IPB)

Nasib Badak Jawa (BJ) terancam. Rhinoceros Sondaicus bercula satu itu, hidupnya makin tertekan sejak Gunung Krakatau meletus dan tsunaminya menghantam pantai Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), 22 Desember 2018 lalu. Dua petugas konservasi badak TNUK tewas terseret gelombang besar tsunami.

Tapi, adakah BJ yang mati terhantam tsunami? Belum tahu pasti. Para pengawas TNUK percaya, tak ada BJ yang mati terseret ombak. Alasannya, sampai sekarang, belum ditemukan bangkai badak di pantai sekitar TNUK. Semoga saja, benar. Taka da BJ yang mati akibat tsunami. Jika itu benar, berarti jumlah jumlah BJ masih utuh. Tapi kalua tidak? Benar-benar bahaya. Jumlah BJ yang langka itu makin langka.

Tsunami itu telah merusak sejumlah bangunan kantor dan kapal milik TNUK. Tapi, menurut Mamat Rahmat, kepala TNUK kepada wartawan BBC News Indonesia, Rivan Dwiastono Rabu (26/12/2018), tak ada BJ yang mati. Tsunami tak membunuh BJ yang jumlahnya tinggal 67 ekor di seluruh dunia itu.

“Kami yakin Badak Jawa dalam keadaan aman. Ini karena ombak datang dari pantai utara. Selama ini, di pantai utara tak banyak Badak Jawa yang muncul dan main di tepi laut,” ungkapnya.  Semoga saja pernyataan Bang Mamat benar adanya. Ini karena pemerhati BJ sulit memantau dan mendeteksi, apakah ada BJ yang terseret tsunami. Tapi satu hal jelas: BJ kini makin terancam hidupnya. Apalagi bila mengingat ledakan Krakatau yang memicu tsunami kapan saja bisa terjadi.

Baca Juga :   Ibu Madrasah Utama

Kita tahu, sejak tsunami dahsyat di barat Pulau Jawa itu terjadi,  sampai hari ini, Krakatau belum tenang. Letusannya masih terus menggelegar. Hamburan debu letusannya masih mengotori wilayah di mana TNUK berada. Tiap malam apinya masih melonjak-lonjak ke atas langit. Semua ini menunjukkan Krakatau di Selat Sunda yang dekat TNUK belum aman.  Sewaktu waktu Krakatau bisa meletus dan menimbulkan tsunami lagi.

So what? BJ harus aman! Harus selamat. Caranya: memindahkannya ke taman nasional (TN) lain di Jawa atau luar Jawa. Tapi mungkinkah?

Peribahasa Inggris menyebutkan: Don’t put all your eggs in one basket. Jangan menempatkan seluruh telur milikmu dalam satu keranjang. Kenapa? Jika keranjang itu jatuh, maka semua telurnya habis. Tak tersisa. Padahal telur-telur tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga. Sekarang, anggaplah, telur-telur itu binatang langka seperti BJ. Jika semuanya ada di satu kawasan, bagaimana jadinya kalau kawasan itu hancur akibat bencana alam?

Itulah perumpamaan bagaimana nasib badak bercula satu di TNUK. Selama ini ada anggapan, hanya TNUK yang cocok untuk konservasi binatang sangat langka Rhinoceros Sondaicus itu. Padahal TNUK saat ini posisinya rawan. Mudah terdampak letusan Gunung Krakatau yang sangat aktif.

Saat ini, kita harus menyadari TNUK — satu-satunya habitat badak bercula satu di dunia —  kondisinya amat rawan. Lokasinya yang berdekatan dengan Gunung Krakatau (yang sewaktu-waktu bisa meledak dan mendatangkan tsunami) menjadikan hidup BJ sangat terancam. Padahal di seluruh dunia, jumlahnya tinggal 67 ekor saja. Dan semuanya hidup di TNUK yang dekat dengan Gunung Krakatau.

Baca Juga :   Dialog Murid dan Guru Soal Siapa Yang Lebih ‘Nakal’?

Sejarah mencatat, di abad ke-18, jumlah Rhinoceros Sondaicus bercula satu masih banyak. Mungkin mencapai puluhan ribu. Tersebar di Burma, Vietnam, Laos, Malaysia, dan Indonesia. Saat itu BJ dianggap musuh manusia. BJ adalah hama pemakan tanaman. Itulah sebabnya, penjajah Belanda pernah memberi hadiah kepada orang yang berhasil membunuh BJ. Alasannya, sang badak bercula satu merusak tanaman pangan.

Lain lagi alasan memburu badak bagi orang Indo Cina. Kulitnya yang tebal dan culanya yang unik berharga amat mahal. Orang-orang Cina menganggap cula badak sebagai obat segala macam penyakit. Akibatnya badak langka itu diburu. Lama-lama, populasinya terus berkurang. Padahal, itu hanya mitos. Tak terbukti secara ilmiah.

Masalah BJ terus mengkritis. Pertambahan populasinya yang amat rendah, menyebabkan BJ makin langka. Kini, BJ merupakan satwa terancam punah di dunia. Dalam daftar merah International Union Conservation of Nature — status BJ digolongkan “kritis”. BJ juga terdaftar dalam Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) sebagai jenis mamalia yang dikhawatirkan punah. Itulah sebabnya, Jakarta mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Termasuk di dalamnya sang badak bercula satu yang sangat langka itu.

Ada gagasan, untuk menyelamatkannya, BJ tadi ditempatkan di wilayah lain, seperti Taman Nasional Meru Betiri Banyuwangi. Tapi, persoalan muncul. mampukah sang badak bersaing dengan banteng yang jumlahnya cukup banyak di Meru Betiri? Dalam hal berburu makanan yang jenisnya hampir sama, niscaya badak akan kalah dengan banteng yang jauh lebih gesit.

Baca Juga :   Masalah Siswa Sekolah di Era Digital

Terus, ada gagasan direlokasi ke sejumlah taman nasional yang ada di Pulau Sumatera. Seperti TN Kerinci Seblat, TN Way Kambas, dan TN Gunung Leuser. Masalah yang muncul, di taman-taman nasional tersebut, badak niscaya akan bertemu dengan gajah, beruang, dan lain-lain. Mampukah binatang bertubuh tembem itu bersaing mencari makanan dengan mereka? Ini perlu kita pikirkan bersama. Tapi kita yakin, hal-hal tersebut bisa direkayasa manusia.

Akhirnya, sebagai hewan langka yang nyaris punah, manusia harus menyelamatkan Badak Jawa. Kalau gagal menyelamatkannya, anak cucu kita kelak tak akan lagi bisa melihat BJ. Mereka hanya mendengar namanya saja. Seperti nama Dinosaurus, Arctodus Simus (beruang raksasa), Giganthopis (ular raksasa), dan lain-lain yang kini sudah tak ada di dunia. Belum lagi bahaya yang akan muncul kelak akibat putusnya rantai ekosistem.

Akhirnya, kita bangsa Indonesia harus bertekad, bagaimana pun caranya, Rhinoceros Sondaicus kudu diselamatkan dari kepunahan. TNUK saat ini hanya satu-satunya habitat badak bercula satu yang ada di dunia. Masyarakat internasional harus ikut memikirkan bagaimana merekayasa kawasan selain TNUK untuk habitat Badak Jawa (BJ) yang eksotik tersebut.(*)

Komentar