Beranda Berita Guru Harus Miliki Tradisi Membaca Yang Kuat

Guru Harus Miliki Tradisi Membaca Yang Kuat

85
0
Guru harus memiliki tradisi membaca yang kuat karena guru menjadi teladan anak didiknya. Mantan Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar menekankan guru harus bisa mendorong muridnya menumbuhkan gerakan literasi. (foto: Agung Y. Achmad)

SahabatGuru – Guru memiliki peran penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca atau lebih luas lagi, menumbuhkan gerakan literasi. Ini menjadikan guru harus memiliki tradisi membaca yang kuat.

Kebiasaan membaca tidak sekadar memperkaya pengetahuan dan ilmu tetapi akan menumbuhkan gerakan literasi. Dan mereka bisa mendorong bertumbuhnya literasi pada anak didiknya.

Mantan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas, kini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) pada Kabinet Gotong Royong (2001-2004) Abdul Malik Fajar menuturkan guru merupakan teladan bagi murid-muridnya. Bila tidak memiliki tradisi membaca yang kuat, bagaimana guru bisa mendorong muridnya untuk membaca. Sang murid akan melihat bila gurunya saja jarang membaca, lalu bagaimana malah mendorong anak didiknya membaca.

Baca Juga :   Eks Mendiknas: Jangan Hanya Andalkan ‘Mbah Gugel’

Faktor keteladanan dipercaya Malik Fadjar sebagai faktor sangat penting dalam pengembangan literasi terutama di institusi pendidikan. Dalam hal ini, ia menekankan peranan guru.

“Bagaimana kita akan membudayakan literasi, sementara tradisi literasi guru-guru kita lemah. Lingkungannya tidak mendukung, orangtua di rumah seharusnya memberi contoh, dan seterusnya. Pengalaman itu tidak datang tiba-tiba,” kata Malik Fadjar saat berbincang dengan Agung Y. Achmad dari SahabatGuru.

“Gurulah yang memandu proses pembiasaan itu. Guru mesti memiliki tradisi kuat membaca karena ia lah yang harus menjelaskan dan memberi contoh kepada peserta didik,” kata mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini menambahkan.

Pranata Pendidikan

Bagi Malik Fadjar, guru adalah pranata pendidikan yang terpenting. Ia menyetujui saran UNESCO dalam peringatan Hari Guru Internasional beberapa tahun silam. Bila ingin memperbaiki pendidikan, mulailah dari perbaikan kualitas guru.

Baca Juga :   Contoh, Kalteng Berhasil Wujudkan Satu Desa Satu PAUD

“Dalam Islam, guru itu kan setengah rasul. Tugas guru  mendekati tugas rasul,” tutur Malik Fadjar yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama di era reformasi itu.

Menurut  Malik Fadjar pendidikan pada akhirnya harus dimulai dari kebiasaan, pembiasaan, pembudayaan lalu diberi makna.

“Jadi kita ciptakan kebiasaan membaca, kuatkan budaya membaca dan paham apa yang dibaca. Ini yang dalam pendidikan kita lemah sekali. Sementara di dunia luar, kita kerap mendengar speed reading, book report dan summary sudah jadi hal biasa. Apalagi di pendidikan tinggi mereka,” ucap Malik Fadjar yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Joko Widodo sejak Januari 2015.

Komentar