Beranda Anjangsana SMP Negeri 2 Demak, Jejak Keunggulan di Siti Hinggil

SMP Negeri 2 Demak, Jejak Keunggulan di Siti Hinggil

365
0
SMP Negeri 2 Demak merupakan salah satu sekolah yang mengembangkan konsep e-learning dalam proses belajar-mengajar. Sekolah itu meraih banyak prestasi di berbagai bidang. (foto: G. Susatyo)

SahabatGuruDe javu. Kesan spontan tersebut dapat dirasakan ketika berkunjung SMP Negeri 2 Demak, Jawa Tengah. Terutama pada bangunan utama yang bergaya arsitek The  Empire Style atau The Dutch Colonial—ciri-ciri berupa pilar-pilar tinggi mirip gaya Yunani.

Setiap sudut bangunan ini seolah ‘bercerita’ serta mengajak kita ke lorong-lorong historis: tentang kejayaan masa lampau yang penah berlangsung di Demak. Maklum, tepat di area bangunan grandeur (megah) warisan kolonial Belanda di Kampung Sitinggil atau Siti Hinggil yang berada di jantung kota tersebut diduga kuat merupakan bagian depan bangunan Keraton Demak—kerajaan Nusantara terkuat di abad ke-15 M.

Seperti menyimpan energi sejarah kejayaan masa lalu itu, SMP N 2 Demak tumbuh maju dan menyimpan banyak jejak keunggulan. Memiliki cadangan buah pikiran kreatif dan inovatif, sekolah ini seperti tak lelah dalam mengukir prestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik, di era kekinian. Tak berlebihan membicarakan prestasi anak sekolah menengah pertama di sana berarti membincangkan  SMPN 2 Demak ini.

Sejarah panjang sekolah ini merupakan salah satu alasan utamanya. Dari itu saja tidak cukup. Menurut Kepala Sekolah SMP N 2 Demak, Trisyono, rahasianya adalah mengelaborasi kekayaan sejarah dan budaya lokal serta membuat berbagai terbosan inovatif yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Proses pembelajaran didasarkan pada nilai-nilai inti dan budaya lokal yang mengedepankan proses pembelajaran yang aktif, efektif dan menyenangkan,” kata Trisyono yang juga bergelar doktor itu.

Kepala SMPN 2 Demak, Trisyono saat memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi. (foto: facebook)

Salah satu inovasinya adalah e-learning. Lantaran itu, ada fakta menarik  lain di sekolah ini, yakni setiap siswa diwajibkan untuk membawa ponsel pintar. Bahkan, hal terakhir ini seolah menjadi simpul dari  prestasi-prestasi bergengsi yang diraih  SMP N 2 Demak, karena banyak lompatan di bidang pengajaran dan pendidikan dapat dilakukan.

e-Learning    

Tidak seperti umumnya sekolah yang melarang siswa-siswanya membawa telepon genggam, SMP N 2 Demak jusru mewajibkan peserta didiknya untuk membawa ponsel yang berbasis android alias smartphone. Sekolah ini telah melangkah maju dengan menerapkan metode pembelajaran berbasis internet atau e-learning. Murid bahkan diharuskan melengkapi diri dengan komputer jinjing atau laptop.

Baca Juga :   Demak, Mewarisi Kejayaan Masa Lalu

SMPN 2 Demak sepertinya telah melampaui anggapan umum bahwa membawa ponsel di sekolah dapat mengganggu proses belajar-mengajar. Seperti kita mafhum, ponsel pintar menyediakan berbagai layanan dan aplikasi yang memungkinkan akses data dan informasi apa saja dapat dilakukan dengan sangat cepat.

Ponsel pintar juga telah menjadi kebutuhan semua orang, tak terkecuali anak-anak usia sekolah. Perangkat teknologi informasi ini dapat membantu proses belajar bagi peserta didik, selain memudahkan komunikasi orangtua dan anak, terutama usai waktu belajar-mengajar di sekolah.

“Sekolah sudah menerapkan e-learning. Kami memiliki situs yang selalu di-up date karena ada petugas admin untuk itu. Guru juga memiliki blog sendiri yang bisa diakses murid. Blog itu memfasilitasi guru dalam penyampaian materi pelajaran, terutama soal ulangan atau tugas, yang dapat diunduh anak-anak. Untuk itu, sekolah menyediakan wifisehingga anak-anak dapat berselancar (browsing),” ujar Sutopo, Wakil Kepala Bidang Infokom dan Kerjasama.

Para murid SMPN 2 Demak biasa belajar memakai ponsel pintar karena sekolah menerapkan sistem e-learning sehingga murid harus mengunduh tugas atau PR lewat ponselnya. (foto: G. Susatyo)

Bagaimana dengan risiko atau dampak buruk yang mungkin terjadi ketika peserta didik membawa smartphone ke sekolah?  Pihak sekolah mengerti betul risiko ini, seperti anak-anak membuka situs bermuatan negatif seperti pornografi atau berita hoaks, terutama saat mereka berada di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, pihak sekolah tetap melakukan kontrol terhadap peserta didik dari kemungkinan pemanfaatan perangkat teknologi-informasi tersebut.

Lebih dari itu, sekolah juga melakukan bimbingan tentang pemakaian ponsel secara bijak. Ibarat api yang harus dijaga dan dikelola dengan baik agar bisa digunakan untuk memasak, menerangi di kegelapan dan bukan membakar rumah atau hutan, ponsel pun telah jamak diketahui memiliki banyak manfaat.

Baca Juga :   Demak, Mewarisi Kejayaan Masa Lalu

Aturan mewajibkan peserta didik membawa smartphone ini sulit ditemukan di sekolah-sekolah lain, di kota sekalipun. Karena melarang siswa-siswinya membawa ponsel, pihak sekolah sering melakukan razia atau inspeksi mendadak (sidak) untuk memastikan murid tidak membawa ponsel.

“Sidak tetap dilakukan dengan memeriksa setiap ponsel yang dibawa murid. Tapi dalam diri mereka memang sudah tertanam menggunakan ponsel untuk hal positif. Sekolah juga tidak membiarkan murid menggunakan ponsel secara bebas. Saat guru memerintahkan tidak membuka ponsel, murid tidak akan berani melanggar larangan tersebut. Ponsel ditaruh di dalam tas,” kata Sutopo.

“Bagaimana kita bisa mendapati ujaran kebencian atau hate speech, fitnah, hal-hal berbau SARA. Sejak usia SMP, anak-anak sudah harus diajarkan bagaimana memakai media sosial (medsos) secara bijak. Meski masih anak-anak, tapi mereka bisa terjerat hukum bila tidak berhati-hati atau bijak ber-medsos,” kata Sutopo menambahkan.

Tradisi e-learning di atas rupanya juga diterapkan dalam membangun interaksi antara pihak sekolah dan orangtua murid. Jalinan komunikasi tersebut tidak selalu dilakukan secara tatap muka. Teknologi komunikasi dengan beragam aplikasi seperti whatsapp (WA) pun bisa dimanfaatkan. Grup WA pun terbentuk di antara guru kelas dan orangtua. Komunikasi melalui WA memudahkan orangtua menyampaikan kritik dan masukan. Guru pun lebih mudah memberikan informasi kepada orangtua.

“Bila mendesak, orangtua bisa memintakan izin anaknya tidak masuk sekolah lewat WA. Namun murid tetap membawa surat izin dari orangtua bila sudah masuk sekolah. Selain grup WA dengan orangtua, ada pula grup WA dengan murid. Ini menjadikan guru lebih mudah menginformasikan tugas kepada anak didik,” kata Sutopo memaparkan.

Jejak Prestasi

SMP N 2 Demak merupakan salah satu pusat keungulan pendidikanyang dimiliki  kabupaten berjuluk Kota Wali itu. Pengalamanpanjang institusi pendidikan ini tidak menjadikan para guru terjebak kepada konservatisme alias jalan di tempat serta puas atas pencapaian selama ini.

Baca Juga :   Demak, Mewarisi Kejayaan Masa Lalu
Berderet trofi yang tertata rapi menunjukkan SMPN Negeri 2 Demak memang sarat prestasi. Menurut wakil kepala sekolah, Sutopo, sekolah terus menambah lemari untuk menampung trofi yang diraih siswa dan guru. (foto: G. Susatyo)

Penerapan e-learning di atas hanya salah satu upaya sekolah agar eksistensinya tetap relevan di tengah derap perubahan zaman. Itulah yang membuat sekolah yang memiliki 10 kelas paralel dengan total 30 kelas serta memiliki lebih dari 900 siswa ini melangkah maju, selain mampu mempertahankan akreditasinya. SMPN 2 Demak menjadi mimpi bagi anak-anak lulusan SD di sana.

Prestasi di bidang akademik, misalnya, siswa-siswi sekolah ini tercatat selalu menduduki peringkat serta rata-rata tertinggi dalam setiap Ujian Nasional (UN). Prestasi paling anyar diraih sekolah ini misalnya Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) dan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) tahun 2016 dan 2017. Deretan trofi yang tertata rapi di lemari kaca menjadi bukti sahih prestasi para siswa. Tidak hanya siswa, guru pun rutin membawa pulang trofi di setiap lomba yang diikuti.

Memiliki tiga ruang komputer yang bisa menampung 30-25 murid, SMPN 2 Demak telah menyelenggarakan Ujian Nasional Berbasis Komputer atau UNBK dalam tiga tahun terakhir.“Ini semua bisa tercapai karena sekolah menjalankan proses pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan, selain mengadaptasi sistem dan pengalaman pendidikan negara-negara maju,” kata Trisyono.

Berada di SMPN 2 Demak seperti menyaksikan sekolah yang hidup, dinamis dan penuh semangat. Murid memiliki semangat berkompetisi yang sehat. Mereka bisa mengikuti kegiatan dari 24 ekstrakurikuler.

“Sekolah memakai sistem moving class. Ruang kelas disesuaikan dengan mata pelajaran. Jadi, guru tidak perlu memindah-mindahkan alat peraga tapi murid yang bergerak mengikuti satu pelajaran ke pelajaran berikutnya. Mereka menjadi dinamis dan tidak jenuh berada di kelas yang itu-itu saja,” Trisyono.

Saat jam sekolah berakhir pada pukul 14.35 WIB, hampir semua murid memilih tidak pulang. Terutama bagi mereka yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang dimulai pukul 15.00 WIB. “Sebagian anak-anak biasanya mengerjakan tugas kelompok di gazebo. Semua aktivitas di sekolah berakhir pada pukul 17.15 WIB. Sekolah juga mematikan wifi karena bila tidak dimatikan, mereka tidak akan pulang,” kata Sutopo.

Begitulah, saat waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB, murid mulai berkemas dan secara pelahan meninggalkan sekolah. Riuh rendah suara anak-anak SMP N 2 lambat laun surut tergantikan suara langkah kaki yang terdengar samar menjauh dari lingkungan sekolah. Gazebo, koridor atau taman dan lapangan sekolah pun tampak lengang.

Facebook Comments

Komentar