Beranda Berita Rapat Gabungan, Begini Penjelasan Penyebab Tsunami Selat Sunda

Rapat Gabungan, Begini Penjelasan Penyebab Tsunami Selat Sunda

248
0

SahabatGuru–Gelombang tsunami yang memporak-porandakan pantai Banten dan Lampung Selatan sempat membuat berbagai pihak galau. Pasalnya tak ada gempa sebelum terjadi tsunami. Namun, setelah rapat gabungan Kemenko Kemaritiman, BMKG, LIPI, Badan Geologi dan BPPT menyimpulkan benar terjadi tsunami.

“Bencana di Selat Sunda saat ini merupakan bencana multievent yang diakibatkan oleh gelombang tinggi, tsunami, erupsi gunung api, dan longsor tebing kawah Gunung Anak Krakatau yang memicu tsunami.” Demikian bunyi siaran pers hasil rapat gabungan yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Kemaritiman yang dikeluarkan pada Senin) 24/12/2018).

Diungkapkan, pada tanggal 23 Desember 2018, pukul 18.30 sampai dengan 21.00 WIB telah dilaksanakan rapat koordinasi dengan agenda pembahasan kejadian tsunami tanggal 22 Desember 2018 di Selat Sunda. Peserta rapat Kemenko Maritim, BMKG, BIG, BPPT, LIPI, dan Badan Geologi ESDM.

Baca Juga :   Sekolah Jadi Tempat Mengungsi Ribuan Warga Pesisir Lampung Selatan

Berdasarkan data-data yang dihimpun dihasilkan kesepakatan bersama, yaitu BMKG memperoleh data tide-gauge pada 22 Desember 2018 sekitar pukul 22.00 WIB. Sebanyak 4 tide gauge di Selat Sunda mencatat adanya anomali permukaan air laut yang diyakini sebagai tsunami.

“Tsunami yang terjadi bukan disebabkan oleh gempa bumi tektonik, namun akibat longsor (flank collapse) di lereng Gunung Anak Krakatau akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.”

Kejadian longsor lereng Gunung Anak Krakatau tercatat di sensor seismograf BMKG di Cigeulis Pandeglang (CGJI) pada pukul 21.03 WIB. Selain itu juga beberapa sensor di Lampung (LWLI, BLSI), Banten (TNG/TNGI, SBJI), Jawa Barat (SKJI, CNJI, LEM) .

“Hasil analisa rekaman seismik (seismogram) dari longsoran lereng Gunung Anak Krakatau setelah dianalisa oleh BMKG setara dengan kekuatan MLv = 3,4, dengan episenter di Gunung Anak Krakatau.”

Baca Juga :   Libur Selama Ramadhan, Sekolah di Purwakarta Adakan 'Pesantren'

Faktor penyebab lepas material di lereng Gunung Anak Krakatau dalam jumlah banyak, menurut siaran pers tersebut, adalah tremor aktivitas vulkanik dan curah hujan yang tinggi di wilayah tersebut.

Bukti-bukti yang mendukung bahwa telah terjadi longsoran di lereng Gunung Anak Krakatau sebagai akibat lanjut dari erupsi Gunung Anak Krakatau yaitu deformasi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan perbandingan citra satelit sebelum dan sesudah tsunami yang memperlihatkan 64 ha lereng Barat Daya Gunung Anak Krakatau runtuh.

Selain itu juga disebabkan oleh curah hujan tinggi pada periode waktu yang berdekatan dengan tsunami, model inversi 4 tide-gauge yang memperlihatkan bahwa sumber energi berasal dari Selatan Anak Krakatau dari analisa Badan Geologi, riset BPPT dan Universitas Blaise Pascal, Prancis yang dipublikasikan pada jurnal internasional.

Baca Juga :   Darurat Bencana, Nadiem Minta Pemda Prioritas Peserta Didik

“Tindaklanjut direkomendasikan untuk memasang tide-gauge di Kompleks Gunung Anak Krakatau (BIG), survei geologi kelautan dan batimetri di Kompleks Gunung Anak Krakatau (Badan Geologi, BPPT, LIPI); konfirmasi dari citra satelit resolusi tinggi (LAPAN) perlu cipta optik, survei udara dengan drone (BPPT), data GPS dan data pasut (BMKG, BIG, Pushidrosal, dan industri di sekitar kawasan).”(ris)