Beranda Guru Menulis Langkah Jitu Guru Mencegah Kekerasan

Langkah Jitu Guru Mencegah Kekerasan

433
0
Guru merupakan kunci dalam mencegah tindak kekerasan di kalangan pelajar. Dan, guru harus mengaplikasikan ‘kejujuran’ dan ‘keteladanan’ sebagai kunci membentuk karakter siswa. (foto: istimewa)

Slamet Winarto *)

Barangsiapa mau menjadi guru, biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri sebelum mengajar orang lain. Dan biarkan dia mengajar dengan teladan sebelum mengajar dengan kata­kata. (Kahlil Gibran)

SahabatGuru – Untaian syair pujangga Kahlil Gibran dalam karyanya Guru di atas pantas untuk kita renungkan. Diakui atau tidak, saat ini telah terjadi krisis keteladanan pada generasi muda. Ketiadaan sosok teladan anak didik dapat dilihat pada beberapa fenomena kekerasan yang dilakukan siswa-siswi kita.

Mudah sekali kita ambil contohnya, dari aksi tawuran pelajar, pelecehan seksual, praktik kekerasan senior terhadap yunior, kasus bullying, miras hingga kasus penganiayaan oleh siswa terhadap guru hingga meninggal seperti terjadi di Sampang.

Jika kita mau melihat ke dalam, yakni ke dunia pendidikan, sepertinya ada yang tidak seimbang. Dunia pendidikan memberikan porsi lebih besar untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan ketimbang pengembangan akhlak dan moral serta karakter. Kekhilafan dunia pendidikan ini kian kentara tatkala nilai-nilai dan moralitas tadi tidak terkukuhkan dalam sosok teladan sehingga siswa kurang referensi dalam bertindak.

Kita butuh kejujuran dan keteladanan seperti yang diungkap Kahlil Gibran di atas. Kejujuran mengandung arti bahwa kita dapat mengakui kekurangan dan kelemahan diri. Keteladanan akan sangat berpengaruh terhadap aktikulasi dan perilaku. Sikap keteladanan di semua aspek akan efektif bagi pembentukan karakter dan kepribadian anak didik. Karena mereka menyaksikan kita, guru mereka, tiap hari.

Baca Juga :   Ayo, Belajar Bahasa Inggris Lewat WA

Guru Adalah Kunci

Hal yang perlu diingat dan diketahui bersama adalah jabaran UUD 1945 yang dituangkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyiratkan tujuan ideal sistem pendidikan kita, yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Banyak orang beranggapan bahwa kegiatan pendidikan merupakan tugas pemerintah (baca: sekolah/guru). Padahal sebagian besar waktu anak didik justru dihabiskan bersama keluarga dan lingkungan masyarakat. Semestinya ketiga unsur ini memiliki tanggung jawab dan misi yang sama terhadap pendidikan dalam membentuk karakter anak bangsa.

Persoalannya, memang, sekolah merupakan salah satu lembaga yang bisa melakukan pencegahan terhadap tindak kekerasan di kalangan pelajar. Sekolah ibaratnya dalang “Ora Kurang Lakon” (tidak kekurangan cara). Lembaga pendidikan bisa menggerakkan semua komponen untuk terlibat dalam pencegahan tindak kekerasan di kalangan pelajar.

Dua komponen sekolah yang bisa diandalkan itu adalah guru dan anak didik. Karena itu, guru memegang peranan kunci dalam pembentukan watak dan perilaku pelajar. Lantaran kedudukan dan tanggung jawabnya yang penting ini guru wajib membekali pelajar dengan hal-hal positif dan arah yang lurus.

Guru dituntut menguasai berbagai strategi dalam menghadapi siswa. Sebagai perwujudan peran nyata dalam mencegah tindak kekerasan di kalangan pelajar, guru harus mengaplikasikan ‘kejujuran’ dan ‘keteladanan’ sebagai kunci membentuk karakter siswa yang dapat dikembangkan dengan langkah berikut:

Baca Juga :   Gampangnya Menyanyikan Rumus Matematika

Pertama, tanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan (Imtaq) pada pembelajaran. Anak didik perlu dibekali iman dan takwa sehingga kelak menjadi pemimpin negeri yang berakhlak mulia. Ini tidak hanya tanggung jawab guru agama semata, tetapi guru nonagama pun perlu mengimplementasikan nilai-nilai iman dan takwa pada mata pelajaran yang dia ajarkan. Di sinilah guru harus pandai meramu butir-butir pembelajaran dengan dalil-dalil agama.

Kedua, jangan abaikan apa yang ditulis siswa. Siswa kadang membutuhkan tempat untuk mencurahkan segala sesuatu (tanpa batas) yang bersifat pribadi. Kita sering menjumpai di lingkungan sekolah baik di dinding, meja, kursi atau apa pun terdapat tulisan atau coretan mereka.

Guru kadang tidak memahami coretan-coretan tersebut merupakan refleksi kemarahan, kebencian, rasa suka, kekesalan, bahagia atau pun emosi. Tindakan keliru yang acap dilakukan guru adalah menghukum pelakunya tanpa berusaha mencari tahu mengapa ia melakukan hal itu. Kalau kita jeli dan dicermati, hal di atas bisa jadi merupakan petunjuk terhadap gejala penyimpangan yang sedang terjadi pada siswa.

Hal serupa juga terjadi pada media sosial. Guru mesti jeli terhadap ungkapan status-status siswanya di media sosial. Guru tak perlu sungkan mengecek media sosial seperti facebooktwitter, WA, maupun BBM anak didiknya. Bila status yang ditulis mengarah kepada hal-hal negatif, guru dapat mengambil tindakan preventif, misalnya mengajak siswa bicara dari hati ke hati. Hal ini akan memberikan kesan tersendiri bagi siswa karena merasa diperhatikan dan dihargai.

Baca Juga :   Agar Anak Berpikir Kritis dalam Pembelajaran IPA

Ketiga, mendongeng dalam pembelajaran. Sering saat mengajar, guru cenderung berpacu dengan waktu untuk mengejar target kurikulum yang harus diselesaikan. Akibatnya proses pembelajaran terkesan serius yang membuat siswa tegang. Kendurkan ketegangan dengan selingan dongeng. Banyak manfaat yang diperoleh dari dongeng karena memberikan hiburan, mengajarkan kebenaran, dan memberikan keteladanan.

Keempat, didiklah dengan sabar, ikhlas dan penuh kasih sayang. Sabar yaitu sikap tabah menghadapi segala kepahitan hidup, besar dan kecil, lahir dan batin, fisiologis, maupun psikologis, karena keyakinan yang tak menggoyahkan bahwa manusia semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Dia. Anak didik di sekolah memiliki latar belakang kehidupan yang heterogen, sehingga mereka memiliki perilaku yang beragam.

Sabar merupakan pelengkap takwa yang menjadi senjata kehidupan seseorang. Sebagai bantalan jiwa yang mampu menahan dan menerima benturan-benturan gelombang kehidupan. Ikhlas maksud-nya rela melakukan sesuatu karena Allah. Ikhlas ini yang mestinya menjadi penggerak jalannya kerja kehidupan. Dengan rela berkorban, hidup ini akan menjadi ringan.

Kelima, terapkan pendidikan tanpa kekerasan. Pendidikan tanpa kekerasan penting bagi peserta didik. Inilah salah satu bentuk keteladanan yang harus dilakukan guru. Jangan melakukan kekerasan fisik maupun kekerasan dalam berbicara (baca bentakan).

Kita sadar bahwa guru merupakan pelaku utama dalam dunia pendidikan. Guru memegang peranan kunci dalam pembentukan watak dan perilaku generasi muda. Guru punya peran nyata dalam mencegah tindak kekerasan di kalangan pelajar.

Slamet Winarto *)

Guru MTs N Pamotan, Rembang, Jawa Tengah