Beranda Kolom Keteladanan Sebagai Basis Membangun Karakter Anak

Keteladanan Sebagai Basis Membangun Karakter Anak

137
0
Pendidikan karakter bisa diterapkan sejak dini seperti yang dilakukan artis Arumi Bachim yang sudah mendidik anak-anaknya sejak usia dini. (foto: G. Susatyo)

Dr. Abdul Malik *)

SahabatGuru – Hampir setiap hari kita memperoleh terpaan informasi dari berbagai media, baik media massa cetak, televisi, radio, maupun internet. Di sana kita membaca, menyaksikan atau mendengar berbagai berita tentang peri-laku menyimpang remaja.

Kasus-kasus seperti tawuran antarpelajar, narkoba, aksi kriminalitas, seks bebas, bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh generasi emas itu seolah telah menjadi sajian yang tidak terlewatkan dalam setiap pemberitaan media.

Terhadap berbagai peristiwa terkait dengan perilaku remaja kita yang di luar batas kenormalan tersebut, kita sepatutnya mempertanyakan; ada apa dengan remaja kita saat ini?

Pertanyaan tersebut penting untuk dikemukakan karena betapa anak-anak remaja yang kita saat ini tengah dihadapkan kepada perilaku yang tidak normal, tidak bermoral, dan tidak beretika.

Perilaku menyimpang yang dilakukan kalangan remaja tentu tidak muncul begitu saja. Selalu ada penyebab baik yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal. Di rumah, anak bermasalah adalah akibat tidak memperoleh kebahagiaan dan sentuhan kasih sayang orang tua, baik lantaran kesibukan orangtua bekerja, konflik rumah tangga, atau karena keterbatasan hidup (baca: kemiskinan). Anak kemudian menjadi teralienasi (terasing) di dalam lingkungan rumah. Celakanya, di luar rumah, si anak juga dihadapkan kepada lingkungan yang tidak sehat.

Begitu pun di sekolah. Banyak sekolah tidak ramah anak. Guru-guru tampil bak monster yang menakutkan karena selalu dalam posisi menang dan ingin menang, sehingga segala tindak dan perilakunya cenderung intimidatif – disadari ataupun tidak – terhadap anak dibanding memosisikan diri sebagai orang tua atau pendidik. Kurikulum sekolah juga cenderung menjadikan anak kian mekanis atau menjadi robot ketimbang memanusiakan anak didik.

Baca Juga :   Masalah Siswa Sekolah di Era Digital

Adanya ‘pemaksaan’ (baca: instruksi) bahwa anak-anak didik harus lulus ujian nasional (UN) dengan nilai sempurna – meskipun untuk itu harus dimanipulasi dan direkayasa – ikut pula memperparah kondisi anak. Secara kejiwaan bukan saja semakin tertekan, anak-anak didik juga mengalami dilema moral. Di satu sisi, melalui pelajaran agama dan pendidikan kewarganegaraan mereka ‘didoktrin’ untuk selalu berlaku jujur, tapi di pengujung masa sekolah mereka dipaksa untuk mencontek sana sini agar dapat nilai UN yang memenuhi target kelulusan.

Dalam kondisi yang labil demikian, si anak akan berupaya mencari jalan keluar untuk lari dari segala kepenatan dan keresahan yang selama ini dialami. Nah, dalam pencariannya itu si anak biasanya akan menemukan patron atau sahabat baru berupa bacaan, tontonan, serta media baru semacam internet. Dari beragam bacaan, tontonan, dan berbagai hiburan di internet, anak semakin terbulatkan hatinya untuk menjerumuskan diri lebih jauh ke dalam berbagai tindakan menyimpang.

Merokok, misalnya, akan dianggap sebagai perbuatan wajar karena sang ayah dan guru di sekolah juga melakukan hal serupa, ditambah dengan tebaran iklan rokok baik di media cetak maupun di media elektronik. Tawuran dianggap sebagai bagian dari gaya hidup karena koran dan televisi memberitakan peristiwa tersebut hingga mempengaruhi bawah sadar anak jika tidak tawuran berarti tidak jagoan.

Baca Juga :   Dialog Murid dan Guru Soal Siapa Yang Lebih ‘Nakal’?
Pelajar sudah menganggap hal yang biasa bila ada tawuran. Mereka kehilangan panutan sehingga gampang terlibat keributan saat di luar rumah dan sekolah. (foto: Posmetropadang)

Pun dengan seks bebas, yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak lagi berdosa akibat mencontoh video dapat begitu mudah diunduh di internet. Bahkan, membunuh dianggap sebagai tindakan kepahlawanan atas nama harga diri meskipun dilatarbelakangi persoalan sepele. Dalam beberapa kasus, motivasi untuk membunuh muncul karena pengaruh game online yang biasa dimainkan di warung-warung internet.

Kehilangan Karakter

Mereka adalah anak-anak atau remaja yang tidak memiliki atau telah kehilangan karakter. Akal sehat dan nurani mereka terlepas karena rumah dan sekolah gagal membangun karakter dan kepribadian yang baik. Di rumah dan di sekolah anak tak berhasil menemukan figur yang di-idolakan.

Sebaliknya, mereka menemukan sosok panutan di jalanan (lingkungan pergaulan) dan di media. Maka, jadilah preman A dan tokoh kriminal B sebagai orang tua dan guru mereka. Demikian juga dengan facebook, youtube, atau situs yang berdomain xxx, menjadi tempat mereka curhat dan pencarian hiburan.

Kegagalan rumah dan sekolah dalam membentuk karakter yang baik bagi anak sejatinya lebih diakibatkan oleh ketiadaan keteladanan. Orang tua dalam banyak kasus tak mampu menjadi teladan yang baik bagi anak, begitu juga guru. Padahal syarat mutlak pengembangan karakter yang baik pada anak adalah keteladanan.

Baca Juga :   Jangan Jadi Bangsa Kepiting!

Keteladanan itu sendiri dapat diartikan sebagai perilaku yang baik yang bersandar pada etika dan moral, yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan konsistensi, sehingga patut untuk ditiru.

Orang tua atau guru gagal menjadi sosok teladan karena mereka kerap bersikap mendua. Contoh kecil adalah mereka melarang merokok sebagai perilaku tidak sehat dan hanya menghambur-hamburkan uang. Namun mereka sendiri adalah perokok. Lama-kelamaan anak akan merasa bosan, sekaligus muak terhadap sikap dan perilaku yang tidak konsisten tersebut.

Siswa menyalami guru saat berpapasan untuk menunjukkan sikap hormat dan menghargai gurunya. Ini menjadi salah satu bentuk pendidikan karakter (foto: G. Susatyo)

Dalam konteks makro bangsa ini selalu menjadi pecundang di berbagai pergaulan di tingkat internasional. Indonesia hanya dikenal sebagai pengekspor pembantu rumah tangga terbanyak di dunia, sedangkan India mampu mempekerjakan warganya di berbagai belahan dunia sebagai profesional dengan gaji yang luar biasa besar.

Di ranah olahraga, Indonesia yang jumlah penduduknya lebih dari 200 juta jiwa tak mampu memiliki kesebelasan sepak bola yang kuat dan disegani, meskipun hanya level Asia Tenggara. Jika pun ada prestasi membanggakan yang berhasil ditorehkan anak-anak bangsa, keberhasilan itu akan segera luluh oleh lebih banyak kekalahan dan kegagalan lain. Itulah, bangsa yang tidak punya karakter.

Kondisi ini berkelindan dengan ‘keriuhan dan kehebohan’ di level penyelenggaraan negara yang selalu dilanda oleh konflik elit politik. Lantas, apa lagi yang bisa didambakan dan dibanggakan oleh remaja dan anak didik kita, selain mereka pada akhirnya akan ikut meniru perilaku para elite yang tak berkarakter dan tak bermartabat itu?

Maka, hanya keteladananlah yang mampu membuat bangsa ini memiliki karakter yang baik, menjadi bangsa pemenang, bukan pecundang. Sedang, keteladanan harus dimulai dari sekarang dan dari diri sendiri.

Dr. Abdul Malik*)

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Serang Raya

Facebook Comments

Komentar