Beranda Berita Direktorat WDB, Tutup Tahun dengan Optimisme dan Semangat Baru

Direktorat WDB, Tutup Tahun dengan Optimisme dan Semangat Baru

204
0
Direktorat Warisan Diplomasi dan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia di kawasan puncak Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, 19-22 Desember 2018. (foto: Agung Y. Achmad)

SahabatGuru – Banyak cara ditempuh sebuah institusi untuk meningkatkan mutu kinerjanya. Salah satunya adalah melakukan penyegaran orientasi dan motivasi kerja para karyawannya. Itulah mengapa, Direktorat Warisan Diplomasi dan Budaya (direktorat WDB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia di kawasan puncak Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, 19-22 Desember 2018.

Kegiatan yang diikuti 40 karyawan di lingkungan direktorat WDB ini menggandeng tim pelatih dari Daarut Tauhid Event Organizer (DTEO). Tak hanya kegiatan di kelas, kegiatan pelatihan ini juga menggelar sejumlah kegiatan untuk me-refresh fisik dan mental melalui aneka permainan untuk penguatan kerja tim, outbond, flying fox, dan senam pagi.

Direktur WDB Nadjamuddin Ramly sendiri tampak terlibat dalam beberapa sesi kegiatan yang berlangsung informal, akrab dan penuh kegembiraan. Ia merasa puas terhadap penyelenggaraan kegiatan kali ini.

“Ini memang menjadi tradisi kami di Direktorat WDB untuk selalu menyegarkan kembali semangat kerja dan hubungan sosial sesama karyawan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kapasitas profesionalisme sebagai aparatur pemerintah, memperbarui pemahaman terhadap hakikat amanah atau tugas,” kata Nadjamuddin.

Baca Juga :   Pekerjaan Guru Bisa Bahayakan Masyarakat
Direktur Warisan Diplomasi dan Budaya Nadjamuddin Ramly (kedua dari kiri) berharap kegiatan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia mampu meningkatkatkan kinerja karyawan. (foto: Agung Y. Achmad)

Komunikasi Berkualitas

Dalam sesi Training Motivasi dan Etos Kerja, motivator DTEO Setyasnomo Soediro mengulas problem umum dalam kinerja tim yang banyak dipengaruhi pola komunikasi. Ia memberi contoh ringan tentang eskspresi wajah, karena hal itu merupakan modal awal dalam berkomunikasi. Ia sebut dengan istilah saldo awal.

“Ekspresi wajah itu potensi atau saldo awal kita dalam berkomunikasi. Ekspresi wajah ini umumnya merupakan bawaan sejak lahir. Bentuknya ada yang kurang menarik atau bahkan dianggap kurang ramah bahkan menyeramkan, datar, dan menggembirakan (smile),” kata Setyasnomo.

Modal awal itu, kata Setyasnomo, harus diolah atau direkayasa agar kelak menghasilkan saldo akhir plus atau mengesankan. Rekayasa itu penting dalam poses interaksi.

Sesi ini menjadi menarik karena sang motivator kerap melontarkan ‘joke’ dan simulasi-simulasi. Misalnya, peserta diminta untuk berbaris berhadap-hadapan, lalu menyebut secara jujur siapa-siapa yang berekspresi wajah tidak menyenangkan, datar dan menyenangkan. Suasana kelas menjadi ramai penuh tawa karena sejumlah peserta ‘ketiban sial’ telah dinilai rekan-rekan sekantor berekspresi tidak menyenangkan atau datar.

Baca Juga :   Mendikbud Imbau Siswa Bangun Jaringan, Ini Alasannya

Tidak selesai sampai di situ, peserta yang telah menjadi sasaran penilaian diminta dengan suka rela untuk bilang ‘terima kasih’. “Ya, itulah hakikat kerja tim. Kita harus berterima kasih karena teman sekantor telah memberi tahu saldo awal kita. Selanjutnya, apa pun saldo awalnya, kita mesti merekayasa agar menjadi lebih baik dan terlembaga. Caranya mudah, mari kita banyak senyum kepada sesama teman kita sendiri,” ujar Setyasnomo memberi contoh.

Salah satu permainan di luar ruangan yang bisa untuk menguatkan kerja tim. Permainan tersebut membutuhkan kerjasama satu dengan yang lain. (foto: Agung Y. Achmad)

Nadjamuddin menyetujui relasi kualitas komunikasi dan mutu kinerja. Menggarisbawahi materi Setyasnomo, ia mencontohkan hal ringan namun besar artinya bagi kinerja tim, seperti tradisi menyampaikan salam baik staf kepada atasannya, atau sebaliknya. Ia mengakui, tradisi ini belum merata di semua level karyawan.

“Jangan menunggu untuk memberikan salam. Saya biasa melakukan itu kepada siapa pun di kantor, seperti kalian tahu. Mari teman-teman semua, anak-anakku, kita berlomba untuk memberi salam, karena salam selain mengakrabkan sesama adalah doa,” kata Nadjamuddin.

Baca Juga :   Menghidupkan Kembali Dolanan Bocah Tempo Dulu: Sensasi atau Substansi?

Nadjamuddin mengakui kegiatan pelatihan tersebut memiliki keterkaitan dengan penurunan prestasi Direktorat WDB. Padahal, menurut dia, direktorat yang ia pimpin cukup cemerlang pada beberapa tahun terakhir. Direktorat ini selalu berada di urutan tiga besar. Bahkan di tahun 2016 pernah menjadi direktorat dengan kinerja terbaik di lingkungan Kemendikbud yang ditandai dengan daya serap anggaran mencapai 97% dengan kualitas mutu laporan baik. Menutup tahun anggaran 2018, Direktorat WDB telah membukukan penyerapan anggaran lebih dari 90%.

Peserta Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia yang merupakan karyawan Direktorat Warisan Diplomasi dan Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (foto: Agung Y. Achmad)

“Semoga sepulang dari sini, kita dapat memulai kinerja yang lebih baik,” kata Nadjamuddin berpesan dalam acara malam ramah-tamah dengan peserta sekaligus menutup acara pelatihan.

Kegiatan semacam ini dirasakan manfaatnya bagi sebagian besar peserta. Salah satunya Ruhadi Anggara (51), staf Tata Usaha Direktorat WDB. 

“Besar sekali manfaatnya dalam upaya mengoptimalkan kinerja. Kita dapat belajar melepas ego masing-masing untuk kemudian bekerja bersama-sama. Saya yakin hasilnya akan jauh lebih bagus ketimbang bila kita tidak kompak,” ujar Ruhadi.

Komentar