Beranda Berita Naila Zakia, Belajar Disiplin Lewat Taekwondo

Naila Zakia, Belajar Disiplin Lewat Taekwondo

668
0
Naila Zaika menekuni olahraga taekwondo sejak kelas 2 SD. Dirinya pun sudah mengukir berbagai prestasi di olahraga tersebut. (foto: istimewa)

SahabatGuru – Ia gadis kecil pemalu. Namanya Naila Zakia, siswa kelas enam Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Az-Zahra, Sragen, Jawa Tengah. Saat SahabatGuru menyapa ramah dengan sejumlah pertanyaan, pemilik nama panggilan Naila itu lebih sering menyembunyikan wajah di balik punggung gurunya. Begitu pula saat diambil gambarnya, Naila, merasa canggung dan kaku, bahkan untuk sekadar seulas senyum.

Tapi siapa sangka di balik sosoknya yang pemalu dan pendiam itu, Naila ternyata jago taekwondo, olahraga beladiri yang identik dengan gerak meninju, menendang dan berjalan itu. “Saya senang saja dengan taekwondo. Saya sudah suka sejak kecil,” kata Naila pendek.

Tidak takut sakit di badan saat bertanding? Naila menggeleng. Tapi dia kemudian menjawab, “Tidak takut meski pernah cedera hidung sampai berdarah saat bertanding. Karena tidak takut, saya tidak pernah cemas kalau bertanding, malah senang saya,” tutur Naila berkisah. Kali ini ia gagal menyembunyikan senyum manisnya.

Naila sudah menyukai taekwondo saat masih duduk di TK besar. Saat itu, ia meminta kepada ibunya agar diizinkan ikut latihan taekwondo. Gara-garanya, dia menyaksikan anak-anak berlatih di Dojang Bhirawa di GOR Diponegoro, Sragen.

“Tapi saya belum mengizinkan Naila ikut taekwondo. Dia masih terlalu kecil. Belum waktunya Naila ikut olah raga keras seperti taekwondo. Dia sudah bisa mengerti bila belum boleh, dia tidak akan meminta lagi,” ungkap ibunda Naila, Yuli Astuti.

Baca Juga :   Genjot Kerjasama, Amikom Target Miliki 20 Persen Mahasiswa Internasional

Naila sesungguhnya tidak dibesarkan dalam keluarga atlet. Ayahnya, anggota TNI, meskipun memiliki kemampuan beladiri, tidak mengenal banyak taekwondo. Begitu pula ibunya yang memperkirakan Naila bakal melupakan olahraga asal Korea Selatan itu.

Namun perkiraan ibunya meleset. Naila tak seperti anak kecil lain yang gampang berganti kegemaran. Dia tetap punya keinginan kuat menekuni taekwondo meski harus menunggu beberapa tahun lagi. Saat sudah duduk di bangku kelas 2 SD, dia baru diizinkan berlatih taekwondo.

“Setelah di kelas 2 SD, saya baru diizinkan latihan taekwondo. Tempatnya di Dojang Bhirawa. Saya berlatih di sana karena tahunya kalau ikut taekwondo ya di dojang itu. Saat latihan biasanya Ibu yang mengantarkan saya,” kata Naila dengan gaya polosnya.

Naila Zakia, bercita-cita menjadi atlet nasional taekwondo dan ingin membela Indonesia di kejuaraan internasional. (foto: g. susatyo)

Langsung Berprestasi

Sejurus dengan itu, sang ibu justru melihat perubahan kebiasaan anaknya yang lebih baik. Naila justru lebih disiplin setelah mengikuti latihan taekwondo secara rutin. Dia pun tak keberatan bila anaknya giat berlatih taekwondo. Jadwal kegiatan taekwondo kian padat karena Naila pun ikut ekstrakurikuler tersebut di sekolahnya.

Baca Juga :   Usulkan Pengetahuan Bencana Masuk Kurikulum Sekolah, Begini Penjelasan Rajekshah

“Latihannya memang melelahkan tapi anaknya tetap suka. Dia tak pernah mengeluhkan lelah. Fisiknya juga makin bagus. Padahal kalau akan bertanding, murid harus latihan seminggu lima kali. Naila juga sering berlatih tanding melawan murid laki-laki,” ucap Yuli.

Baru berlatih beberapa bulan, Naila sudah mencoba mengikuti turnamen. Tampil untuk kali pertama di sebuah turnamen terbuka yunior di Kabupaten Sragen pada 2014, Naila langsung merebut emas di nomor poomsae atau rangkaian bentuk gerakantaekwondo.

“Saya tidak berpikir apakah akan kalah atau menang. Yang penting saya bisa ikut kejuaraan. Ternyata saya bisa mendapatkan emas,” tutur Naila.

Naila Zakia, pendiam tetapi tidak takut saat bertarung di olahraga taekwondo. (foto: istimewa)

Tahun berikutnya, di ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Yunior Sragen, dia meraih perunggu di nomor kyorugi atau pertarungan. Medali emas kembali Naila raih di kejuaraan tingkat Kabupaten Sragen pada 2016.

“Setelah juara, saya merasa makin percaya diri. Saya jadi selalu ingin mengikuti kejuaraan,” kata Naila. Kali ini ia benar-benar senyum menampakkan barisan gigi putihnya.

Prestasi di taekwondo terus ia ukir. Di tahun 2017, umpamanya, Naila mengikuti beberapa turnamen. Yogyakarta Master Taekwondo Poomsae Championship 2017 di mana Naila sukses kembali mendulang medali emas. Saat berlaga di Piala Ansan-Mahameru di Solo, dia meraih perak.

Baca Juga :   Sebanyak 1800 Tentara Akan Jadi Guru di Daerah 3T

“Persaingan pada turnamen kali ini lebih ketat dari kejuaraan-kejuaraan sebelumnya. Saya tidak hanya menghadapi lawan dari Jawa Tengah tapi juga dari daerah lain. Ini jadi pengalaman berharga,” tutur Naila.

Menurut Yuli prestasi anaknya memang makin mengesankan. Ia terus mendorong putrinya disiplin berlatih keras untuk meningkatkan kemampuannya. Hingga saat ini, Naila masih bertanding di tingkat kabupaten, provinsi dan di turnamen terbuka.

“Saatnya nanti, seiring dengan bertambahnya usia, dia akan tampil di kejuaraan yang lebih ketat. Dan, Naila memang memiliki tekad untuk menekuni taekwondo. Kami juga berterima kasih pada perkumpulan tempat dia berlatih di Bhirawa. Lantaran didikannya, Naila bisa menjadi atlet taekwondo,” tutur Yuli.

Naila pun sudah menyatakan keinginannya menjadi atlet taekwondo. Target dia tak lain menjadi atlet nasional dan ingin berlaga di SEA Games. “Tidak hanya SEA Games, saya ingin bertanding di kejuaraan yang lebih tinggi. Saya memang ingin menjadi atlet nasional. Jadi saya akan menekuni taekwondo lebih dalam,” kata gadis yang bercita-cita menjadi polisi itu. Mengapa polisi? “Senang saja melihat polwan. Jadi saya ingin menjadi polwan,” kata Naila dengan ekspresi ceria.