Beranda Berita PAUD dan Pendidikan Karakter

PAUD dan Pendidikan Karakter

268
0
Pendidikan karakter penting untuk ditanamkan sejak anak-anak masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Tampak anak-anak PAUD beraktivitas di luar ruangan kelas. (foto: g. susatyo)

Ayid Suyitno *)

SahabatGuru – PAUD alias Pendidikan Anak Usia Dini, kini jadi bagian penting dalam hidup kehidupan kita. Sepertinya orangtua ketinggalan zaman jika tidak ‘menyekolahkan’ anak ke PAUD. Wajar jika setiap pagi kita menyaksikan anak yang baru berusia tiga tahun sudah menenteng tas untuk ke ‘sekolah’.

Asyiknya, para bocah ini tidak merasa ‘tertekan’ untuk melakukan itu. Mereka tampak enjoy bergabung dengan teman-teman satu kompleks atau lingkungan, kemudian berangkat bersama — tentu saja, ada orangtua atau walinya — ke tempat yang dituju. Mereka bergerak menuju lembaga pendidikan yang bernama PAUD atau Taman Kanak-kanak (Raudhatul Afhtal) di mana mereka tergabung.

Sepintas kita melihat ada ‘pemaksaan’: Anak sekecil itu sudah disekolahkan atau oleh orangtuanya harus bersekolah. Apa karena orangtua ingin enaknya saja, sehingga menyerahkan tanggung jawabnya mendidik kepada pihak lain? Begitu pula, pihak lain (lingkungan sekolah) menyediakan keinginan orangtua menyekolahkan anaknya.

Baca Juga :   Karangasem, Regrouping Sekolah Saat Terjadi Bencana

Faktanya, itu terjadi dengan begitu saja. Memang berdasar keinginan dan lingkungan anak itu, sehingga kegiatan ini tidak menjadi beban. Segalanya mengalir dengan sendirinya. 

Secara teori disebutkan pada hakekatnya masa kanak-kanak merupakan suatu masa yang paling penting. Memiliki kaitan berpilin dengan perkembangan hidup seorang anak manusia di masa mendatang.

Demikian pula, terdapat kesepakatan di antara para ahli pendidikan dan psikologi. Bahwa perkembangan dan pengalaman individu di masa kanak-kanaknya memang besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan kepribadiannya pada masa dewasa.

Banyak ahli pendidikan dan psikologi yang mengemukakan hal ini, antara lain Sigmund Freud. Menurut lelaki asal Austria ini setiap pola sikap manusia dibentuk dan ditentukan pada masa kanak-kanaknya.

Berbagai pendapat ini pada akhirnya memang mengarahkan pada apa yang dalam teori perkembangan anak disebut Konvergensi. Yaitu suatu teori yang dikemukakan William Stern. Di mana baik pembawaan maupun pengalaman (lingkungan) mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan individu. Jadi, perkembangan itu ditentukan oleh faktor pembawaan maupun oleh faktor pengalaman (lingkungan).

Baca Juga :   Tanamkan Antikorupsi Lewat Program Saya Anak Antikorupsi

Di Indonesia teori ini sejalan dengan yang dikemukakan Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan kita. Tentang hubungan antara dasar dan keadaan ini menurut ilmu pendidikan ditetapkan adanya ‘konvergensi’ yang berarti keduanya saling mempengaruhi hingga garis dasar dan garis keadaan itu selalu tarik-menarik dan akhirnya menjadi satu. 

Mengenai perlu tidaknya tuntunan di dalam tumbuhnya manusia, samalah keadaannya dengan soal perlu tidaknya pemeliharaan dalam tumbuhnya tanam-tanaman.

Misalnya kalau sebutir jagung yang baik dasarnya jatuh pada tanah yang baik banyak airnya dan dapat sinar matahari, maka pemeliharaan dari bapak tani tentu menambah baiknya tanaman. Kalau tidak ada pemeliharaan sedangkan tanahnya tidak baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidakmendapat sinar matahari atau kekurangan air, maka jagung itu walaupun dasarnya baik, tak akan dapat tumbuh baik karena pengaruh keadaan.

Baca Juga :   Stop Angkat Guru Honorer, Berdayakan Pensiunan

Sebaliknya kalau sebutir jagung tidak baik dasarnya akan tetap ditanam dengan pemeliharaan yang sebaik-baiknya oleh bapak tani, maka biji itu akan dapat tumbuh lebih baik daripada biji yang lain-lainnya yang juga tidak baik dasarnya.

Di sini, Pendidikan Karakter berperan. Guru sebagai ‘pelaksana inti’ dari porsi ini di sekolah sudah sewajarnya punya pegangan untuk menanamkan dasar-dasar kehidupan yang baik. Untuk memperkuat apa yangditanamkan orangtuanya sejak masih dalam kandungan.

Ayid Suyitno *)

Jurnalis dan pengamat dunia PAUD