Beranda Berita Tangkal Radikalisme, Pelajaran PMP Akan Dihidupkan Lagi

Tangkal Radikalisme, Pelajaran PMP Akan Dihidupkan Lagi

460
0
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Supriano mengatakan pelajaran PMP akan dihidupkan kembali. (foto: detikcom)

SahabatGuru – Masih ingat pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP)? Bagi generasi yang lahir di Orde Baru (Orba), pelajaran PMP sudah diajarkan sejak Sekolah Dasar (SD). Begitu pula saat duduk di bangku SMA dan di Perguruan Tinggi, para mahasiswa anyar mendapat penataran P4 (Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila).

PMP mulai dipelajari di sekolah sejak diberlakukannya kurikulum 1975. Namun pelajaran itu kemudian berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) berdasarkan kurikulum 1994.

Setelah dihapuskan dari pendidikan formal, pelajaran tersebut akan dihidupkan kembali. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana mengembalikan mata pelajaran PMP. Mata pelajaran itu dianggap penting untuk menguatkan nilai Pancasila.

“PMP akan dikembalikan lagi karena ini banyak yang harus dihidupkan kembali. Bahwa Pancasila ini luar biasa buat bangsa kita. Itu mungkin yang akan kita lakukan,” kata Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Supriano usai upacara peringatan hari guru di Jakarta, Senin (26/11/2018).

Baca Juga :   Wapres Minta PMP Tidak Perlu Dimasukkan Kurikulum

Supriano mengatakan rencana menghidupkan kembali pelajaran PMP masih dalam pembahasan. Begitu pula kapan pelajaran itu mulai diberikan kepada siswa, apakah di tahun ajaran baru atau tahu berikutnya. Belum jelas pula materi dari pelajaran tersebu, apakah memakai materi lama atau memasukkan materi baru.

“Ini masih akan dibahas. Yang jelas PMP tak lagi sekadar hafalan tetapi harus bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kami sedang siapkan untuk kembali lagi pendidikan Pancasila yang lebih eksplisit,” ujar Supriano yang berharap pembelajaran PMP tidak lagi diisi dengan ceramah-ceramah.

“Pembelajaran Pancasila bukan ceramah-ceramah. Kita sesuaikan misalnya tolong-menolong. Nanti polanya tidak seperti dulu yang hanya hafalan. Ke depan ini penyampaiannya melalui siswa aktif. Pancasila bukan dihafal tapi untuk dipraktikkan,” katanya.

Baca Juga :   Bawaslu Bangka Barat Bentuk Sekolah Demokrasi Ini Tujuannya

Siswa perlu mendapat pelajaran lagi tentang Pancasila karena munculnya paham-paham radikalisme dan berbagai paham lain yang bertentangan dengan norma Pancasila sebagai dasar negara. Menurut Supriano ini menjadi salah satu alasan pendidikan dasar ini mesti kembali diterapkan.

“Pancasila bisa digunakan sebagai pondasi untuk membentengi seseorang dari paham-paham radikal yang merusak bangsa. Kita punya Pancasila sebagai dasar. Dari lima sila itu bisa membentengi seseorang dan menjadinya lebih baik,” kata dia memungkasi.