Beranda Berita Santri Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

Santri Harus Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

561
1
Mendikbud Muhadjir Effendy dalam kunjungannya ke pondok pesantren di Lamongan menekankan pentingnya para santri yang mondok di pesantren untuk mempersiapkan diri menghadapi revolusi industri 4.0. (foto: kemdikbud)

SahabatGuru – Santri yang belajar dan menuntut ilmu agama di pondok pesantren (ponpes) tidak hanya terpaku pada persoalan agama. Santri yang mondok tetap tidak boleh gagap teknologi alias gaptek. Apalagi mereka sampai tidak siap menghadapi revolusi industri 4.0.

Dunia yang berubah sangat cepat dengan kehadiran internet menjadi tantangan bagi generasi muda bangsa. Tantangan itu juga mau tidak mau dihadapi para santri. Dan mereka pun termasuk santri milenial karena lahir di era yang serba digital ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy tegaskan santri harus menyiapkan diri menghadapi revolusi industri 4.0. Hanya mereka tidak boleh larut dalam revolusi digital tetapi bersikap kritis. Meski dalam tradisi pesantren dikenal ketat dengan pelajaran teks agama, Mendikbud berharap santri berpikir kritis melihat dunia luar.

Baca Juga :   Guru di Sumbawa Barat Up Grade Kompetensi Lewat Smart Teaching

“Santri harus lebih siap dan terbuka untuk menghadapi tantangan. Ilmu itu harus digali secara lebih luas dan mendalam, sesuai konteks, tetapi harus tetap kuat memegang akidah,” kata Mendikbud saat melakukan kunjungan ke ponpes di Paciran, Lamongan.

Di Lamongan, Minggu (21/10/2018), Mendikbud mengunjungi tiga Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah, Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah, dan Pondok Pesantren Al-Islah Sendang Agung.

Mendikbud juga menyampaikan para santri agar memperhatikan rumus 5C, yakni critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreativitas), communication skill (kemampuan komunikasi), collaboration (kerja sama) dan confidence (percaya diri).

Mendikbud berharap santri tidak hanya kritis tetapi juga kreatif. Menurutnya kreativitas harus ditunjukkan sepanjang waktu dengan cara membuat terobosan dan menemukan sesuatu yang baru.

Baca Juga :   Dayah, Sarana Pendidikan Agama Terbaik di Aceh

“Di Muhammadiyah tradisi kreatif sudah dimulai sejak K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), yakni dengan membuat sistem pendidikan modern pada zamannya. Oleh karena itu, santri yang tidak kreatif akan ditinggalkan oleh zaman,” ujar Mendikbud.

Di samping berpikir kritis dan kreatif, Mendikbud menambahkan santri juga harus memiliki jaringan yang luas dan mampu berkolaborasi. Mereka perlu memiliki keterampilan menulis dan berbicara di hadapan publik.

“Seseorang tidak akan kelihatan cerdas jika tidak bisa menyampaikan gagasannya dengan baik. Utuk itu, keterampilan komunikasi dan kepercayaan diri juga sangat penting,” lanjut mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Dalam kesempatan ini, Mendikbud menyampaikan pesan Presiden Joko Widodo untuk senantiasa menjaga negara yang sangat besar ini. Indonesia merupakan negara yang memiliki daratan yang sangat luas seperti daratan Eropa dengan ratusan suku dan ribuan pulau.

Baca Juga :   1000 Guru SMK Dikirim ke Singapura

Tokoh-tokoh Muhammadiyah terdahulu, lanjut Mendikbud, telah merintis nilai-nilai kebangsaan yang sangat kuat, seperti Jenderal Sudirman yang mendirikan TNI, Ki Bagus Hadikusumo perintis kemerdekaan dan perumus UUD 1945, dan Ir. H. Juanda yang memperjuangkan wilayah laut sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sebagai penerus kemerdekaan tidak mungkin Muhammadiyah mengkhianati apa yang sudah diperjuangkan oleh pendahulunya,” ungkap Mendikbud. Oleh karena itu, bagi Muhammadiyah, NKRI adalah negara yang sudah final sebagai hasil kesepakatan.

1 KOMENTAR