Menimba Kearifan ‘Mazhab’ Sekolah Alam

    502
    0
    Sekolah Alam memadukan integritas ilmiah dan ilahiah yang mengembangkan karakter, penguasaan akademik, minat dan bakat. Para murid saat belajar pada alam. (foto: Sekolah Alam)

    SahabatGuru – Mengapa biaya sekolah di negeri ini cenderung mahal? Kenapa indeks pendidikan Indonesia masih rendah? Mengapa kita hari ini ramai membicarakan pendidikan karakter dan gerakan literasi? Ada apa dengan pendidikan kita selama ini? Banyak orang mengajukan pertanyaan-pertanyaan di seputar pendidikan kita.

    Namun, Lendo Novo (52) tidak berhenti bertanya. Pada 1998, ia mendirikan sekolah alternatif yang ia sebut Sekolah Alam (SA). Gagasan utama sekolah ini adalah menyediakan lembaga pendidikan dengan kualitas baik, terutama dalam pengembangan karakter, selain penguasaan akademik, minat dan bakat, dengan biaya terjangkau.

    Sekolah alam pertama ia dirikan di Ciganjur, Jakarta Selatan, setelah sukses menerapkan idenya di TK Salman al-Farisi di Bandung. Menyusul pembentukan Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) pada 2001, sekolah alam (formal) kian banyak didirikan untuk jenjang TK atau pra-sekolah hingga perguruan tinggi. Jumlahnya tidak kurang 57 di tanah air.

    Lendo Novo, penggagas dan pendiri Sekolah Alam. (foto: Sekolah Alam)

    Konsep sekolah alam memang di luar mainstream pendidikan. Namun, konsep tersebut justru mampu ‘mengedukasi’ sistem pendidikan mainstream. Kini banyak sekolah konvensional mengadaptasi gagasan dia.

    Apalagi banyak hal menarik lainnya dari sekolah alam ini, seperti penyederhanaan materi ajar dan fokus, suatu metode pembelajaran yang seiring dengan Kurikulum 2013 (K-13), pendidikan vokasi, selain konsep integrasi ilmiah-ilahiahnya (iman, ilmu pengetahuan, dan cinta kepada alam semesta dan kehidupan). Hal yang mengantarkan Lendo memperoleh sertifikat Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada 2009 atas jasanya mengembangkan konsep baru pendidikan yang berwawasan lingkungan.

    Pendidikan untuk semua

    Sekolah alam bukan berarti kegiatan belajar-mengajar yang selalu dilakukan di luar kelas, seperti di sawah, sungai, atau pantai. Alam di sini didefinisikan sebagai pengalaman, realitas sosial-ekonomi-kebudayaan, dan semesta raya. Kedua definisi alam tersebut, menurut konsep sekolah alam, adalah guru terbaik.

    Baca Juga :   Gerakan Literasi Ala Ratna Listy

    “Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, dan setiap buku adalah ilmu,” kata Lendo menyitir ide-ide aktivis pendidikan seperti Ivan Illich dan Paulo Friere.

    Dalam sekolah alam, kegiatan belajar-mengajar senantiasa memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar lingkungan pusat-pusat belajar sesuai kebutuhan minat peserta didik. Sekolah alam sangat menekankan dukungan guru yang berkompeten di bidangnya, metode pembelajaran yang tepat sehingga target transformasi ilmu-pengetahuan dan pengembangan karakter dapat tercapai dengan hasil yang baik serta optimal.

    Ketiga komponen tadi tersedia di sekitar kita yang dalam sekolah-sekolah konvensional berupa fasilitas laboratorium. Pemanfaatan potensi secara efektif terhadap ‘laboratorium alam’ itulah yang membuat sekolah alam efisien.

    “Kontribusi infrastruktur terhadap kualitas pendidikan tidak lebih dari 10%. Guru berkompeten, metode yang tepat dan buku adalah yang paling menentukan kualitas pendidikan”  ujar Lendo.

    Sekolah Alam memadukan integritas ilmiah dan ilahiah yang mengembangkan karakter, penguasaan akademik, minat dan bakat. Para murid saat belajar pada alam. (foto: Sekolah Alam)

    Ayah tiga putra putri itu memberi contoh, bila anak didik berminat menjadi jurnalis, dia bisa magang kepada wartawan. Seorang guru, polisi, pedagang, tentara, koreografer, dan profesi apa saja, bisa dimanfaatkan, atau lebih tepatnya dilibatkan, menjadi guru di sekolah alam.

    “Jika ia ingin menjadi petani ya berguru kepada petani di sawah. Mudah kan?” katanya.

    Dengan konsep ini, pendidikan kita akan lebih maju dibanding Singapura atau Finlandia. Ketika itu pendidikan dan industri akan nge-link dengan sendirinya. Menurut dia sesungguhnya isu pendidikan hanya bagaimana mengorganisasikan semua potensi, bagaimana memberdayakan sumber daya manusia dan bagaimana cara menyediakan guru.

    Menurut Lendo, peserta didik mau belajar itu bukan lantaran dipaksa orangtua, bahkan pemerintah. Mereka seharusnya belajar menurut apa yang mereka sukai dan inginkan.

    “Anak-anak harus belajar sesuai minatnya. Untuk itu sekolah memfasilitasi para siswa,” kata Lendo sembari menyebut sekolah alam menyelenggarakan konsultasi untuk membantu siswa merumuskan minat dan bakatnya.

    Baca Juga :   Mona Ratuliu, Menulis untuk Berbagi

    Semua pembelajaran mestinya dilakukan dengan pendekatan tematik serta pembuktian alias praktik. Pendekatan ini tidak membelenggu tetapi menyenangkan dan mampu membangkitkan daya imajinasi serta keaktifan anak didik dalam proses belajar-mengajar.

    Sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, sekolah alam pun member kontribusi, terutama dalam mengimplementasikan paradigma pembangunan berkelanjutan melalui program nyata. Sekolah alam menginisiasi sejumlah program hijau dan berkelanjutan di banyak kota, seperti zero waste management di Kota Payakumbuh, Bahan Bakar Nabati (Bakarti) di SMP Negeri 1 Balikpapan dan SMP Negeri 10 Samarinda, Biogas di 11 SSB di SMK Negeri 3 Sukabumi, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di SMK Negeri 1 Probolinggo.

    Masih banyak lagi program setara seperti kegiatan Akademi Menabung Pohon (modul dan mekanisme perekrutan relawan), dan Sekolah Sobat Bumi (SSB) di 17 sekolah melalui implementasi Sistem Tata Kelola Sekolah yang baik dan berwawasan lingkungan, pembangunan berkelanjutan di 17 SSB, serta 170 sekolah binaan hingga eco-transportation di empat kota untuk 44 SSB. Atas kontribusinya terhadap program dan kegiatan di atas, Lendo memperoleh CSR Indonesia Award 2017.

    Hal itu tentu tak dapat diterapkan di sekolah konvensional. Apalagi kurikulum pendidikan nasional tidak memfasilitasi semua orang. Pemberian mata ajar dalam bentuk paket, seperti yang berlaku di sistem pendidikan nasional, menurut Lendo, termasuk ‘memaksa’.

    Bayangin, siswa disuruh mempelajari 14 materi ajar. Jika tidak pintar benar mereka gak bakal lulus. Jika mau jujur, saya jamin yang lulus ujian nasional hanya 10%. Tapi karena sebagian besar nyontek, bahkan dikasih bocoran oleh guru, dan sebagainya, ya semuanya lulus ujian,” kata Lendo.

    Baca Juga :   ZONASI GURU: BERSAMA MEMBANGUN PENDIDIKAN BERKUALITAS DAN MERATA

    Beresensi Kurikulum 2013

    Gagasan Sekolah Alam, terutuma dalam hal bertujuan melahirkan anak didik yang berkompeten di bidangnya, berkarakter baik, membumi, serta berkemampuan dalam memahami tantangan zaman, itu mirip dengan apa yang dikehendaki K-13. Salah satu ciri penting dari Kurikulum 2013 adalah penyederhanaan, tematik-integratif, hal yang sesungguhnya juga menjadi ‘roh’ Kurikulum 2006.

    Ketika menjelang pengesahan Kurikulum 2013 (K-13), Lendo sempat diundang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberi beberapa pandangan tentang Sekolah Alam yang dirintisnya.

    “Saat itu, sekolah alam yang ada di Indonesia disebut telah menggunakan Kurikulum 2013. Bagi saya, sumbangan terbaik dari Republik ini adalah Kurikulum 2013 karena sifatnya yang revolusioner,” kata Lendo.

    Integrasi ilmiah dan ilahiah

    Ada satu lagi ciri penting dari Sekolah Alam, yakni integritas ilmiah dan ilahiah. Bahwa alam semesta ini adalah ciptaan Tuhan. Tapi, kita, menurut Lendo, sering mengalami kesulitan untuk menghubungkan antara ilmu pengetahuan yang dipelajari di bangku sekolah atau kampus dan niai-nilai ketuhanan.

    “Secara akademik, itu yang kita sebut epistemologi. Filsafat ilmu. Metode berpikir ini tak mesti kita jelaskan sebagai suatu kajian filsafat, tapi metode pengajaran yang dibangun di sekolah alam tidak memisahkan antara ilmu dunia dan agama,” kata Lendo.

    Bahkan penamaan sekolah alam berangkat dari prinsip integritas ilmiah dan ilahiah ini. Kemampuan memegang tugas sebagai khalifah di bumi yang hendak dituju sekolah alam.  Jadi, setiap lulusan anak sekolah alam tak hanya menerima materi akademik. Mereka juga bertambah pengalaman, lebih tangkas (ranah PQ, physical/power quotient), kian bijak (ranah EI, emotional intelligence) dan iman semakin kokoh (ranah SI, spiritual intelligence).