Beranda Kolom Masalah Siswa Sekolah di Era Digital

Masalah Siswa Sekolah di Era Digital

875
0

SahabatGuru – Seorang guru pernah bertanya, “mengapa siswa makin sering membolos sekolah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya?” Atau “Mengapa mereka berubah menjadi agresif dan tak lagi disiplin?”

Guru pun heran mengapa anak-anak sekarang terkesan malas bergerak. “Mengapa siswa cenderung malas sampai ada istilah ‘mager’ alias malas gerak?  Anak-anak ‘zaman now lebih sering menjawab mager saat diminta membantu ayah atau ibunya. Kecenderungan mengantuk di sekolah pun kian tinggi.

Jawabannya? Ya, internet dan gawai. Teknologi yang menciptakan dunia maya sudah seperti pisau yang bisa berdampak positif, tetapi juga negatif. Ini tergantung cara dan untuk apa pisau digunakan.

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah perilaku manusia. Tanpa disadari manusia mengalami ketergantungan dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia sudah memasuki apa yang disebut sebagai era digital. Internet telah merambah semua lapisan kehidupan masyarakat, mulai dari transaksi bisnis, pendidikan, kesehatan, sosial dan agama. Dengan teknologi informasi yang berkembang pesat, manusia tidak lagi dipisahkan ruang dan waktu. Semua aktivitas bisa dilaksanakan dengan mudah.

Namun tak dapat dipungkiri inovasi yang dikembangkan dalam teknologi internet juga memiliki dampak negatif. Internet bisa mengakibatkan efek adiksi atau kecanduan. Ini yang dialami oleh banyak anak dan remaja. Bahkan orang dewasa pun tak luput dari kecanduan internet.

Baca Juga :   Badak Jawa dan Letusan Krakatau

Dalam beberapa kasus, orang tua menjadikan gawai tak ubahnya sebagai obat penenang bagi anak. Alasannya, agar anak-anak diam dan tidak mengganggu orang tua.

Di kasus lain, seorang ibu takut anaknya terkena pengaruh narkoba di lingkungan tempat tinggalnya. Ibu pun melarang dia bermain di luar rumah. Sebagai kompensasi ia memberikan akses wifi tak terbatas di rumah. Tanpa disadari dengan akses internet yang bebas dan terbuka, anaknya malah dengan gampang mengakses situs-situs porno. Anak akhirnya malah kecanduan pornografi yang lebih berbahaya dari kecanduan narkoba.

Positif dan Negatif

Dari hasil kajian dan penanganan klien siswa sekolah bermasalah karena internet menunjukkangawai memiliki dampak positif dan negatif. Penggunaan internet/gawai berdampak positif karena bisa menambah wawasan dan pengetahuan. Internet menjadi sumber pengetahuan dan memungkinkan seseorang meningkatkan kapasitas pengetahuannya.

Kehidupan manusia pun dimudahkan. Hanya tinggal pencet, kita bisa memesan makanan dan ojek secara online. Ibu rumah tangga atau anak-anak bisa membangun ekonomi secara mandiri dengan mengembangkan bisnis online. Anak tak perlu menunggu lulus sarjana untuk mendapatkan penghasilan.

Hiburan? Sudah pasti internet menyediakan beragam hiburan yang bisa meng-entertain.

Dampak negatifnya? Sudah pasti karena gawai bisa menyebabkan kecanduan, khususnya bila bermain game yang mengakibatkan perilaku agresif, gangguan konsentrasi, membolos, emosi,dan penurunan prestasi. Anak-anak kerap meninggalkan jam belajar atau mengerjakan tugas karena sibuk ber-media sosial atau main game.

Lewat internet, teman bisa bertambah tetapi juga berkurang. Interaksi manusia kian berkurang karena anak malas bersosialisasi dengan lingkungan sekitar sehingga empati dan kepedulian sosial menjadi rendah.

Baca Juga :   Dialog Murid dan Guru Soal Siapa Yang Lebih ‘Nakal’?

Malas bersosialisasi disebabkan anak-anak malas bergerak alias mager. Mereka lebih banyak mager karena sibuk dengan gawai yang mengakibatkan kondisi kesehatannya menurun dan menimbulkan penyakit. Daya juang mereka pun melemah.

Teknologi internet telah menciptakan media sosial yang menjadi kegandrungan anak dan remaja. Kemudahan berinteraksi dengan orang lain di berbagai belahan dunia memang menarik hati.

Persoalannya, banyak kasus korban penipuan,penculikan dan bahkan mengalami  perkosaan oleh pelaku kriminal yang mencari mangsa di media sosial. Fenomena ini memerlukan perhatian bagi semua pihak untuk segera melakukan edukasi kepada masyarakat khususnya orang tua tentang bagaimana menggunakan teknologi.

Ada banyak kasus anak yang enggan sekolah, tidak disiplin, mengalami gangguan emosi, agresif, dan melakukan perundungan karena mereka tidak bisa menggunakan internet dengan sehat. Mereka sudah menjadikan gawai sebagai kebutuhan utama. Bahkan mereka mengabaikan hubungan kemanusiaan dan kepedulian sosial, termasuk hubungan dalam keluarga.

Baca Juga :   Keterampilan Berniat Baik, Keterampilan Vital di Era 4.0 Industri

Peran orang tua dan guru sangat penting. Keluarga dan sekolah harus bisa menciptakan penggunaan internet sehat. Penting pula memberi edukasi kepada anak-anak mengenai dampak negatif gawai dalam kehidupan keluarga.

Keluarga dan sekolah harus membuat aturan tegas bagi siswa dalam penggunaan internet/gawaidi rumah (batasan waktu, etika, nilai moral). Orang tua pun sebaiknya mendampingi anak saat memilih game yang akan dimainkan. Termasuk anak di bawah umur tidak diperkenankan memegang gawai tanpa ada pendampingan dan pengawasan.

Dalam penggunaan media sosial, siswa harus bisa menjaga sikap, tidak pamer, berbohong dan harus bernuansa edukasi. Anggota keluarga, khususnya orang tua dan guru, perlu menjadi follower media sosial anak sehingga tidak ada yang berani menyimpang dalam penggunaannya.

Dan orang tua sendiri harus bisa memberi contoh penggunaan gawai. Jangan sampai orang tuamengabaikan komunikasi dalam keluarga, interaksi sosial  atau bahkan mengabaikan kebutuhan keluarga gara-gara gawai. Ini yang benar-benar penting dan harus diperhatikan.

Muhammad Iqbal Ph.D

Dekan Universitas Mercu Buana Jakarta

CEO & Founder Rumah Konseling